Senin, 07 Mei 2012

TEKNIK MOBILISASI PADA PASIEN FRAKTUR


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
 Negara Indonesia merupakan negara berkembang yang berada dalam taraf halusinasi menuju industrialisasi tentunya akan mempengaruhi peningkatan mobilisasi masyarakat /mobilitas masyarakat yang meningkat otomatisasi terjadi peningkatan penggunaan alat-alat transportasi /kendaraan bermotor khususnya bagi masyarakat yang tinggal diperkotaan. Sehingga menambah “kesemrawutan” arus lalu lintas. Arus lalu lintas yang tidak teratur dapat meningkatkan kecenderungan terjadinya kecelakaan kendaraan bermotor. Kecelakaan tersebut sering kali menyebabkan cidera tulang atau disebut fraktur.
Menurut Smeltzer (2001 : 2357) fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.
       Berdasarkan data dari rekam medik RS Fatmawati di ruang Orthopedi periode Januari 2005 s/d Juli 2005 berjumlah 323 yang mengalami gangguan muskuloskletel, termasuk yang mengalami fraktur Tibia Fibula berjumlah 31 orang (5,59%).
       Penanganan segera pada klien yang dicurigai terjadinya fraktur adalah dengan mengimobilisasi bagian fraktur adalah salah satu metode mobilisasi fraktur adalah fiksasi Interna melalui operasi Orif (Smeltzer, 2001 : 2361). Penanganan tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Komplikasi umumnya oleh akibat tiga fraktur utama yaitu penekanan lokal, traksi yang berlebihan dan infeksi (Rasjad, 1998 : 363).
      Berdasarkan masalah diatas kami mengangkat sebuah judul tengan “Teknik Mobilisasi pada Pasien Fraktur” agar dalam penanganan pasien fraktur dapat lebih mudah dalam penyembuhan.


B.   Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini  yaitu :
1.    Apa tujuan dari mobilisasi
2.    Jelaskan teknik-teknik mobilisasi pada pasien fraktur

C.   Tujuan dan Manfaat
1.    Untuk mengetahui tujuan dari mobilisasi
2.    Untuk mengetahui teknik-teknik mobilisasi pada pasien fraktur








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. fraktur  

1. Definisi Fraktur
Fraktur adalah patah tulang yang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga listrik (Michael, 1999) Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Gustillo, 2000).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, kebanyakan fraktur akibat dari trauma : beberapa fraktur sekunder terhadap proses penyakit seperti osteoporosis, yang menyebabkan fraktur-fraktur yang patologis (Barret dan Bryan, 2000). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan atau rawan (Junaidi, 2002).
Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan atau tulang rawan yang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik dan biasanya disertai cedera jaringan disekitarnya yaitu ligamen, otot, tendon, pembuluh darah dan persyarafan.
Menurut Jenis Fraktur, dapat dibagi menjadi :
1)      Fraktur tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.
2)       Fraktur terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukan di kulit, fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat (Menurut R. Gustillo : 2000) yaitu :
a)      Derajat
(1)   Luka < 1 cm
       (2)   Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk
       (3)   Fraktur sederhana, transversal, oblik atau kominutif    ringan
       (4)   Kontaminasi minimal
b)      Derajat II
        (1)   Laserasi > 1 cm
        (2)   Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flup/avulsi
         (3)   Kontaminasi sedang
c)      Derajat III
      Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan  neurovaskuler serta Kontaminasi derajat tinggi,

2.      Klasifikasi Fraktur
a.       Menurut bentuk patah tulang
1)  Fraktur komplit  Yaitu apabila seluruh tulang patah dan tulang menjadi dua pigemn
2)  Fraktur inkomplit
Yaitu patah tulang sebagian tanpa terjadi pemisahan tulang.
3)  Fraktur tertutup  
Yaitu fraktur dimana kulit tidak ditembus oleh tulang.
4)  Fraktur terbuka
Yaitu tulang yang patah menembus kulit sehingga tulang kelihatan
5)  Fraktur tanpa perubahan posisi
Yaitu tulang mengalami patah sedangkan posisinya pada tempatnya.
6)  Fraktur dengan perubahan posisi
Yaitu tulang yang patah berjauhan dari tempat patah

7) Comminuted fraktur
Yaitu serpihan-serpihan atau terputusnya keutuhan jaringan terdapat lebih dari dua fragmen.
8) Impacted fraktur
Yaitu salah satu ujung tulang yang patah menancap pada yang lain.
b.  Menurut garis patah tulang

1) Fraktur Greenstick
          Yaitu salah satu dari sisi tulang patah, biasanya terjadi pada anak-anak yang tulang masih lunak.
2)  Fraktur transverse
          Yaitu fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap tulang.
3)  Fraktur obligue
        Yaitu fraktur yang garis patahnya membentuk sudut tulang.
4)  Fraktur spiral
          Yaitu fraktur yang timbul akibat kursi pada ekstremitas dan dapat cepat sembuh dengan imobilisasi eksternal (Noer, at all, 1999).


http://www.klikdokter.com/userfiles/fraktur.JPG
                     Retak        Spiral       Kominutif      Transversal    Displaced


3.      Penyebab
  a.      Trauma pada tulang
         1)      Langsung
         2)      Tidak langsung
 b.      Akibat proses patologik (Fraktur tejadi atau trauma akibat kecelakaan bermotor.
 c.      Benturan dan cedera, seperti jatuh atau trauma akibat kecelakaan bermotor.
d.      Fraktur patologi dapat disebabkan karena kelemahan tulang akibat penyakit kanker
e.      Fraktur karena letih atau karena otot tidak dapat mengabsorbsi energi seperti karena berjalan kaki terlalu jauh.
 f.      Penyakit-penyakit lain seperti astreumelitis.
4.      Manifestasi Klinis
           Perubahan posisi dan bengkak (deformitas) dapat terjadi berisi cairan serous pada sisi sekitar fraktur serta jaringan berdekatan (Echimosi) perdarahan berasal dari jaringan subkutan (Spasme otot) kontraksi invulunter dari otot yang berdekatan dengan fraktur (bagian yang lunak “Dengan Palpasi”) pada sekitar sisi fraktur (nyeri) tiba-tiba nyeri hebat setelah injuri, nyeri akibat spasme otot, nyeri kerusakan jaringan (gangguan sensori) dapat terjadi karena kerusakan syaraf (gangguan fungsi normal) disebabkan karena tidak stabilnya tulang yang patah, nyeri, spasme otot, parayse akibat hilangnya/rusaknya fungsi syaraf (gangguan mobilisasi) (adanya krepitasi), (shock) adanya kehilangan darah, fraktur lain nyeri hebat/ kerusakan jaringan (kelainan X-Ray).

5.      Komplikasi Fraktur
Komplikasi fraktur yang dapat timbul adalah :
a.       Malunium
          Yaitu suatu keadaan dimana tulangnya patah telah sembuh dalam posisi yang tidak seharusnya membentuk sudut atau miring, seperti patah tulang yang dirawat dengan fraksi kemudian diberi gips untuk imobilisasi dimana kemungkinan gerakan rotasi dari fragmen-fragmen tulang yang patah kurang diperhatikan akibatnya sesudah gips dibuang ternyata anggota tubuh bagian distal memutar ke dalam atau penderita tidak dapat mempertahankan tubuhnya dalam posisi netral.
b.      Nonunion atau Delayed Union
         Yaitu proses penyembuhan yang terus berjalan tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari normal, seperti reduksi yang tidak benar atau menyebabkan bagian tulang yang patah tetap tidak menyatu, imobilisasi yang kurang tepat, adanya infeksi dan pola spesifik peredaran darah dimana tulang yang patah tersebut dapat merusak suplay darah ke satu atau lebih fragmen tulang.
c.       Emboli
           Hal ini diakibatkan perubahan tekanan pada fraktur menyebabkan molekul lemak terdorong dari sumsum ke dalam peredaran darah sistemik, berakibat gangguan pada respitori dan system syaraf pusat.
d.      Ischemic Paralisis
           Aliran darah arteri yang terputus ke daerah trauma atau daerah yang tertekan menyebabkan terjadinya kontraktor.
e.       Esteomuielitis
           Hal ini dapat disebabkan karena kuman yang masuk ke dalam luka atau dari bagian lain dari tubuh (contoh parotitis), infeksi bagian-bagian sumsum saluran hevar dan subperlostel yang berakibat merusak tulang oleh enzim proteolitik (Manjoer, 2003).
6. Penatalaksanaan
Empat tujuan utama dari penanganan fraktur adalah :
  1. Untuk menghilangkan rasa nyeri.
             Nyeri yang timbul pada fraktur bukan karena frakturnya sendiri, namun karena terluka jaringan disekitar tulang yang patah tersebut. Untuk mengurangi nyeri tersebut, dapat diberikan obat penghilang rasa nyeri dan juga dengan tehnik imobilisasi (tidak menggerakkan daerah yang fraktur). Tehnik imobilisasi dapat dicapai dengan cara pemasangan bidai atau gips.
  • Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang.
  • Pemasangan gips : merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar tulang yang patah
  1. Untuk menghasilkan dan mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur.
             Bidai dan gips tidak dapat mempertahankan posisi dalam waktu yang lama. Untuk itu diperlukan lagi tehnik yang lebih mantap seperti pemasangan traksi kontinyu, fiksasi eksternal, atau fiksasi internal tergantung dari jenis frakturnya sendiri.
  • Penarikan (traksi) :
             Menggunakan beban untuk menahan sebuah anggota gerak pada tempatnya. Sekarang sudah jarang digunakan, tetapi dulu pernah menjadi pengobatan utama untuk patah tulang paha dan panggul.
  • Fiksasi internal :
             Dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang.
http://www.klikdokter.com/userfiles/pemindaian.JPG
Gambar. Pembidaian

http://www.klikdokter.com/userfiles/fiksasi%20internal.JPG
Gambar. Fiksasi internal

http://www.klikdokter.com/userfiles/fiksasi%20eksternal.JPG
Gambar. Fiksasi eksternal
  1. Agar terjadi penyatuan tulang kembali
            Biasanya tulang yang patah akan mulai menyatu dalam waktu 4 minggu dan akan menyatu dengan sempurna dalam waktu 6 bulan. Namun terkadang terdapat gangguan dalam penyatuan tulang, sehingga dibutuhkan graft tulang.
  1. Untuk mengembalikan fungsi seperti semula
         Imobilisasi yang lama dapat mengakibatkan mengecilnya otot dan kakunya sendi. Maka dari itu diperlukan upaya mobilisasi secepat mungkin.
7. Proses penyembuhan tulang
a)   Stadium Satu-Pembentukan Hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur.
b)   Stadium Dua-Proliferasi Seluler
Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis.
c)   Stadium Tiga-Pembentukan Kallus
Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik (bersifat menghasilkan/membentuk tulang), bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago.
d).  Stadium Empat-Konsolidasi
Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan  osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru.
e).  Stadium Lima-Remodelling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus.
B. Mobilisasi dan Imobilisasi
Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan keegiatan dengan bebas (kosier, 1989).
Mobilitas merupakan suatu kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah, dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannya.
Immobilisasi atau tirah baring adalah keadaan dimana seseorang tidak dapat bergerak secara aktif  atau bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan (aktivitas ). Misalnya mengalami trauma tulang belakang, cedera otak berat disertai fraktur pada ekstremitas, dan sebagainya. Imobilisasi secara fisik, merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan.















BAB III
PEMBAHASAN
A. Tujuan Mobilisasi
1)      Mempertahankan fungsi tubuh
2)      Mempelancar peredarahan darah
3)      Membantu pernafasan menjadi lebih baik
4)      Mempertahankan tonus otot
5)      Mempelancar eliminasi BAB/BAK
6)     Mengembalikan aktifitas normal setidak-tidaknya dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.
B. Teknik mobilisasi pada pasien fraktur
1.    Memindahkan pasien dari tempat tidur ke brankar
Adalah memindahkan pasien yang mengalami ketidakmampuan, keterbatasan, tidak boleh melakkukan sendiri,  atau tidak sadar dari tempat tidur ke brankar yang dilakukan oleh dua atau tiga orang perawat.
Tujuan:
Memindahkan pasien antar ruangan untuk tujuan tertentu (misalnya pemeriksaan diagnostik, pindah ruangan, dll.)
Prosedur :
1)      Atur brankar dalam posisi terkunci dengan sudut 90 derajat terhadap tempat tidur.
2)      Dua atau tiga orang perawat menghadap Ke tempat tidur / pasien.
3)      Silangkan tangan pasien ke depan dada.
4)      Tekuk lutut anda, kemudian masukkan tangan anda ke bawah tubuh pasien.
5)      Perawat 1 meletakkan tangan dibawah leher / bahu dan bawah pinggang; perawat 2 meletakkan tangan di bawah pinggang dan panggul pasien; perawat 3 meletakkan tangan dibawah pinggul dan kaki.
6)      Pada hitungan ketiga, angkat pasien bersamasama dan pindahkan ke brankar.
7)      Atur posisi pasien, dan pasang pengaman
8)      Tinggikan tingkat tempat tidur, sehingga sedikit lebih tinggi dari brankar.
9)      Pastikan rem terkunci pada kedua tempat tidur dan brankar.
10)  Lepaskan bantal dari tempat tidur dan letakkan di brankar.
11)  Bantu pasien miring menjauhi brankar, lalu pasang sliding board dibawah tubuh pasien.
12)  Bantu pasien kembali ke posisi telentang diatas sliding board dan silangkan lengan di dada.
13)  Perawat mengatur satu kaki di depan dengan lutut dan pinggul sedikit fleksi, pertahankan body align dengan punggung tetap lurus.
14)  Pada hitungan ketiga, dua perawat pada sisi brankar secara lembut menarik sliding board ke arah mereka.
15)  Miringkan pasien dan angkat sliding board.
16)  Atur pasien ke tengah brankar.
17)  Pastikan pasien merasa nyaman dan pasang rel pengaman brankar.
2.    Memindahkan pasien ke kursi roda
A. Pengertian:
Suatu kegiatan yang dilakuan pada klien dengan kelemahan kemampuan fungsional untuk berpindah dari tempat tidur ke kursi.
B. Tujuan:
1. Melatih otot skelet untuk mencegah kontraktur atau sindro disuse
2. Memberikan kenyamanan
3. Mempertahankan kontrol diri pasien
4. Memungkinkan pasien untuk bersosialisasi
5. Memudahkan perawat yang akan mengganti seprei (pada klien yang toleransi dengan kegiatan ini)
6. Memberikan aktifitas pertama (latihan pertama) pada klien yang tirah baring
7. Memindahkan pasien untuk pemeriksaan diagnostik.
C. Langkah:
1)      Ikuti protokol standar
2)      Bantu klien ke posisi duduk di tepi tempat tidur. Buat posisi kursi pada sudut 45 derajat terhadap tempat tidur. Jika menggunakan kursi roda, yakinkan bahwa kurisi ini dalam posisi terkunci
3)      Pasang sabuk pemindahan pila perlu, sesuai kebijakan lembaga
4)      Yakinkan bahwa klien menggunakan sepatu yang satabil dan anti slip
5)      Regangkan kedua kaki anda
6)      Fleksikan panggul dan lutut anda, sejajarkan lutut anda dengan klien
7)      Pegang sabuk pemindahan dari bawah atau gapai melalui aksila klien dan tempatkan tangan pada skapula klien
8)      Angkat klien sampai berdiri pada hitungan 3 sambil meluruskan panggul andan dan kaki, pertahankan lutut agak fleksi
9)      Pertahankan stabilitas kaki yang lemah atau sejajarkan dengan lutut anda
10)  Berporos pada kaki yang lebih jauh dari kursi, pindahkan klien secara langsung ke depan kursi
11)  Instruksikan klien untuk menggunakan penyangga tangan pada kursi untuk menyokong
12)  Fleksikan panggul anda dan lutut saat menurunkan klien ke kursi
13)  Kaji klien untuk kesejajarn yang tepat
14)  Stabilkan tungkai dengan slimut mandi
15)  Ucapkan terimakasih atas upaya klien dan puji klien untuk kemajuan dan penampilannya
16)  Lengkapi akhir protocol

3.    Body aligment
      Pengaturan posisi yang dapat dilakukan pada pasien ketika mendapatkan perawatan, dengan tujuan untuk kenyamanan pasien, pemudahan perawatan dan pemberian obat, menghindari terjadinya pressure area akibat tekanan yang menetap pada bagian tubuh tertentu.
Pengaturan posisi antara lain :
a.    Posisi fowler
Posisi fowler dengan sandaran memperbaiki curah jantung dan ventilasi serta membantu eliminasi urine dan usus.
Pengertian
 Tanpa fleksi lutut.Posisi fowler merupakan posisi bed dimana kepala dan dada dinaikkan setinggi 45-60
Tujuan
 a. Untuk membantu mengatasi masalah kesulitan pernafasan dan cardiovaskuler
 b.   Untuk melakukan aktivitas tertentu (makan, membaca, menonton televisi)
Prosedur kerja
1.      Cuci tangan dengan menggunakan sarung tangan bila diperlukan. Menurunkan transmisi mikroorganisme.
2.      Minta klien untuk memfleksikan lutut sebelum kepala dinaikkan. Mencegah klien melorot kebawah pada saat kepala dianaikka
3.      fowler tinggi 60 sesuai kebutuhan. (semi fowler 15-45 sampai 603. Naikkan kepala bed 45
4.      Letakkan bantal kecil dibawah punggung pada kurva lumbal jika ada celah disana. Bantal akan mencegah kurva lumbal dan mencegah terjadinya fleksi lumbal.
5.      Letakkan bantal kecil dibawah kepala klien. Bantal akan menyangnya kurva cervikal dari columna vertebra. Sebagai alternatif kepala klien dapat diletakkan diatas kasur tanpa bantal. Terlalu banyak bantal dibawah kepala akan menyebabkan fleksi kontraktur dari leher.
6.      Letakkan bantal dibawah kaki, mulai dari lutut sampai tumit. Memberikan landasan yang, lembut dan fleksibel, mencegah ketidaknyamanan akibat dari adanya hiper ekstensi lutut, membantu klien supaya tidak melorot ke bawah.
7.      Pastikan tidak ada pada area popliteal dan lulut dalam keadaan fleksi. Mencegah terjadinya kerusakan pada persyarafan dan dinding vena. Fleksi lutut membantu supaya klien tidak melorot kebawah.
8.      Letakkan bantal atau gulungan handuk dibawah paha klien. Bila ekstremitas bawah pasien mengalami paralisa atau tidak mampu mengontrol ekstremitas bawah, gunakan gulungan trokhanter selain tambahan bantal dibawah panggulnya. Mencegah hiperekstensi dari lutut dan oklusi arteri popliteal yang disebabkan oleh tekanan dari berat badan. Gulungan trokhanter mencegah eksternal rotasi dari pinggul.
9.      Topang telapak kaki dengan menggunakan footboart. Mencegah plantar fleksi.
10.  Letakkan bantal untuk menopang kedua lengan dan tangan, bila klien memiliki kelemahan pada kedua lengan tersebut. Mencegah dislokasi bahu kebawah karena tarikan gravitasi dari lengan yang tidak disangga, meningkatkan sirkulasi dengan mencegah pengumpulan darah dalam vena, menurunkan edema pada lengan dan tangan, mencegah kontraktur fleksi pergelangan tangan.
11.  Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
b.      Semi Fowler
Cara berbaring pasien dengan posisi setengah duduk.
Tujuan:
a.       Mengurangi sesak napas
b.      Memberikan rasa nyaman
c.       Membantu memperlancar
d.      keluarnya cairan, misalnya pada WSD
e.       Membantu mempermudah tindakan pemeriksaan
Dilakukan pada:
Pasien sesak napas
Pasien pasca bedah, bila keadaan umum pasien baik atau bila pasien sudah sadar
Pelaksanaan:
Pasien didudukkan, sandaran punggung diatur sampai setengah duduk dan  dirapihkan
Pada tempat tidur khusus, tempat tidurnya langsung diatur setengah duduk
Pasien dirapihkan
c.       Posisi Sims
Posisi sims atau disebut juga posisi semi pronasi adalah posisi dimana klien berbaring pada posisi pertengahan antara posisi lateral dan posisi pronasi. Posisi ini lengan bawah ada di belakang tubuh klien, sementara lengan atas didepan tubuh klien.
Tujuan
         Untuk memfasilitasi drainase dari mulut klien yang tidak sadar.
         Mengurangi penekanan pada sakrum dan trokhanter besar pada klien yang mengalami paralisis
         Untuk mempermudahkan pemeriksaan dan perawatan pada area perineal
         Untuk tindakan pemberian enema
Prosedur kerja
a.  Cuci tangan dengan menggunakan sarung tangan bila diperlukan Menurunkan transmisi mikroorganisme.
b.  Baringkan klien terlentang mendatar ditengah tempat tidur. Menyiapkan klien untuk posisi yang tepat.
c.  Gulungkan klien hingga pada posisi setengah telungkup, bagian berbaring pada abdomen
d.  Letakkan bantal dibawah kepala klien. Mempertahankan kelurusan yang tepat dan mencegah fleksi lateral leher.
e.  Atur posisi bahu sehingga bahu dan siku fleksi
f.   Letakkan bantal dibawah lengan klien yang fleksi. Bantal harus melebihi dari tangan sampai sikunya. Mencegah rotasi internal bahu.
g.  Letakkan bantal dibawah tungkai yang fleksi, dengan menyangga tungkai setinggi pinggul. Mencegah rotasi interna pinggul dan adduksi tungkai. Mencegah tekanan pada lutut dan pergelangan kaki pada kasur.
h.  Letakkan support device (kantung pasir) dibawah telapak kaki klien. Mempertahankan kaki pada posisi dorso fleksi. Menurunkan resiko foot-drop.
i.  Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
j.  Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan

d.      Posisi Trendelenburg
Posisi pasien berbaring ditempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah daripada bagian kaki.
Tujuan
Posisi ini dilakukan untuk melancarkan peredaran darah ke otak.
e.      Posisi Genu Pectoral
Merupakan posisi menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel pada bagian alas tempat tidur.
Tujuan
Posisi ini digunakan untuk memeriksa daerah rectum dan sigmoid.
f.      Posisi Telantang (Supinasi)
 Posisi terlentang adalah posisi dimana klien berbaring terlentang dengan kepala dan bahu sedikit elevasi menggunakan bantal.
Tujuan
a. Untuk klien post operasi dengan menggunakan anastesi spinal.
b. Untuk mengatasi masalah yang timbul akibat pemberian posisi pronasi yang tidak tepat.
Prosedur kerja
1.      Cuci tangan dengan menggunakan sarung tangan bila diperlukan. Menurunkan transmisi mikroorganisme.
2.      Baringkan klien terlentang mendatar ditengah tempat tidur. Menyiapkan klien untuk posisi yang tepat.
3.      Letakkan bantal dibawah kepala, leher dan bahu klien. Mempertahankan body alignment yang benar dan mencegah kontraktur fleksi pada vertebra cervical.
4.      Letakkan bantal kecil dibawah punggung pada kurva lumbal, jika ada celah      disana. Bantal akan menyangga kurva lumbal dan mencegah terjadinya fleksi lumbal.
5.      Letakkan bantal dibawah kaki mulai dari lutut sampai tumit. Memberikan landasan yang lebar, lembut dan fleksibel, mencegah ketidaknyamanan dari adanya hiperektensi lutut dan tekanan pada tumit.
6.      Topang telapak kaki klien dengan menggunakan footboard. Mempertahankan telapak kaki dorsofleksi, mengurangi resiko foot-droop.
7.      Jika klien tidak sadar atau mengalami paralise pada ekstremitas atas, maka elevasikan tangan dan lengan bawah (bukan lengan atas) dengan menggunakan bantal. Posisi ini mencegah terjadinya edema dan memberikan kenyamanan. Bantal tidak diberikan pada lengan atas karena dapat menyebabkan fleksi bahu.
8.      Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
9.      Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan
g.        Posisi Orthopneu
Posisi orthopneu merupakan adaptasi dari posisi fowler tinggi dimana klien duduk di bed atau pada tepi bed dengan meja yang menyilang diatas bed.
Tujuan
1.      Untuk membantu mengatasi masalah pernafasan dengan memberikan   ekspansi dada yang maksimal
2.      Membantu klien yang mengalami masalah ekhalasi
Prosedur kerja
1.      Cuci tangan dengan menggunakan sarung tangan bila diperlukan. Menurunkan transmisi mikroorganisme.
2.      Minta klien untuk memfleksikan lutut sebelum kepala dinaikkan. Mencegah klien merosot kebawah saat kepala dinaikkan.
3.      Naikkan kepala bed 90
4.      Letakkan bantal kecil diatas meja yang menyilang diatas bed.
5.      Letakkan bantal dibawah kaki mulai dari lutut sampai tumit. Memberikan landasan yang lebar, lembut dan fleksibel, mencegah ketidaknyamanan akibat dari adanya hiperekstensi lulut dan tekanan pada tumit.
6.      Pastikan tidak ada tekanan pada area popliteal dan lulut dalam keadaan fleksi. Mencegah terjadinya kerusakan pada persyarafan dan dinding vena. Fleksi lutut membantu klien supaya tidak melorot kebawah.
7.      Letakkan gulungan handuk dibawah masing-masing paha. Mencegah eksternal rotasi pada pinggul.
8.      Topang telapak kaki klien dengan menggunakan footboard. Mencegah plantar fleksi.
9.      Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
10.  Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan
h.        Posisi Pronasi (telungkup)
Posisi pronasi adalah posisi dimana klien berbaring diatas abdomen dengan kepala menoleh kesamping.
Tujuan
1. Memberikan ekstensi penuh pada persendian pinggul dan lutut.
2. Mencegah fleksi kontraktur dari persendian pinggul dan lutut.
3. Memberikan drainase pada mulut sehingga berguna bagi klien post operasi mulut atau tenggorokan.
Prosedur kerja
1.      Cuci tangan dengan menggunakan sarung tangan bila diperlukan. Menurunkan transmisi mikroorganisme.
2.      Baringkan klien terlentang mendatar di tempat tidur. Menyiapkan klien untuk posisi yang tepat.
3.      Gulingkan klien dengan lengan diposisikan dekat dengan tubuhnya dengan siku lurus dan tangan diatas pahanya. Posisikan tengkurap ditengah tempat tidur yang datar. Memberikan posisi pada klien sehingga kelurusan tubuh dapat dipertahankan.
4.      Putar kepala klien ke salah satu sisi dan sokong dengan bantal. Bila banyak drainase dari mulut, mungkin pemberian bantal dikontra indikasikan. Menurunkan fleksi atau hiperektensi vertebra cervical.
5.      Letakkan bantal kecil dibawah abdomen pada area antara diafragma (atau payudara pada wanita) dan illiac crest. Hal ini mengurangi tekanan pada payudara pada beberapa klien wanita, menurunkan hiperekstensi vertebra lumbal, dan memperbaiki pernafasan dengan menurunkan tekanan diafragma karena kasur.
6.      Letakkan bantal dibawah kaki, mulai lutut sampai dengan tumit. Mengurangi plantar fleksi, memberikan fleksi lutut sehingga memberikan kenyamanan dan mencegah tekanan yang berlebihan pada patella.
7.      Jika klien tidak sadar atau mengalami paralisa pada ekstremitas atas, maka elevasikan tangan dan lengan bawah (bukan lengan atas) dengan menggunakan bantal. Posisi ini akan mencegah terjadinya edema dan memberikan kenyamanan serta mencegah tekanan yang berlebihan pada patella.
8.      Jika klien tidak sadar atau mengalami paralisa pada ekstremitas atas, maka elevasikan tangan dan lengan bawah (bukan lengan atas) dengan menggunakan bantal. Posisi ini akan mencegah terjadinya edema dan memberikan kenyamanan. Bantal tidak diletakkan dibawah lengan atas karena dapat menyebabkan terjadinya fleksi bahu.
9.      Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
10.  Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan
i.      Posisi Lateral (Side Lying)
Posisi lateral adalah posisi dimana klien berbaring diatas salah satu sisi bagian tubuh dengan kepala menoleh kesamping.
Tujuan
a. Mengurangi lordosis dan meningkatkan aligment punggung yang baik
b. Baik untuk posisi tidur dan istirahat
c. Membantu menghilangkan tekanan pada sakrum dan tumit.
Prosedur kerja
1.      Cuci tangan dengan menggunakan sarung tangan bila diperlukan. Menurunkan transmisi mikroorganisme.
2.      Baringkan klien terlentang ditengah tempat tidur. Memberikan kemudahan akses bagi klien dan menghilangkan pengubahan posisi klien tanpa melawan gaya gravitasi.
3.      Gulingkan klien hingga pada posisi miring. Menyiapkan klien untuk posisi yang tepat
4.      Letakkan bantal dibawah kepala dan leher klien. Mempertahankan body aligment, mencegah fleksi lateral dan ketidaknyamanan pada otot-otot leher.
5.      Fleksikan bahu bawah dan posisikan ke depan sehingga tubuh tidak menopang pada bahu tersebut. Mencegah berat badan klien tertahan langsung pada sendi bahu.
6.      Letakkan bantal dibawah lengan atas. Mencegah internal rotasi dan adduksi dari bahu serta penekanan pada dada.
7.      Letakkan bantal dibawah paha dan kaki atas sehingga ekstremitas berfungsi secara paralel dengan permukaan bed. Mencegah internal rotasi dari paha dan adduksi kaki. Mencegah penekanan secara langsung dari kaki atas terhadap kaki bawah.
8.      Letakkan bantal, guling dibelakang punggung klien untuk menstabilkan posisi. Memperlancar kesejajaran vertebra. Juga menjaga klien dari terguling ke belakang dan mencegah rotasi tulang belakang.
9.      Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
10.  Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan

4.    Teknik napas dalam dan batuk efektif

A.    Teknik Napas Dalam
1.      Pengertian
Teknik napas dalam yaitu klien dianjurkan menarik napas dalam kamudian disuruh menahan 3 – 5 detik lalu dihembuskan dengan cara meniup.
2.      Tujuan
a.       Untuk meningkatkan ventilasi dan oksigenasi
b.      Untuk mengaktifkan pasien dalam bernapas
c.       Memberi rasa nyaman pada klien
d.      Untuk mengurangi rasa nyeri
3.      Indikasi
a.       Pasien dengan keterbatasan ekspansi paru (COPD)
b.      Pasien dengan preoperasi
c.       Pasien dengan post operasi
d.      Kebiasaan pasien yang membungkuk
e.       Klien dengan nyeri yang hebat
f.       Teknik pada saat persalinan untuk meningkatkan relaksasi dan kotrol nyeri
4.      Teknik napas dalam
a.       Perawat meletakkan tangan diatas tulang dada / tulang iga dan pasien menarik napas perlahan-lahan sampai gerakan dada maksimum, tahan napas untuk beberapa detik dan napas dikeluarkan perlahan-lahan melalui mulut.
b.      Setiap kali melakukan teknik ini minimal 5 kali / 7 kali
c.       Dilakukan 3 – 4 x/hari
d.      Pada kondisi bedrest / terlentang sebaliknya dianjurkan melakukan setiap jam.
B.     Teknik Batuk Efektif
1.      Pengertian
Teknik batuk efektif yaitu dianjurkan menarik napas dalam kamudian disuruh menahan 3 – 5 detik lalu dibatukkan.
2.      Tujuan
a.       Membersihkan mucus jalan napas
b.      Mencegah infeksi jalan napas
c.       Mengembalikan kemampuan pernapsan
d.      Mencegah pneumonia
e.       Mencegah atelektasis
f.       Membantu memberikan rasa nyaman klien
3.      Gambaran latihan batuk efektif
Terdiri dari napas dalam, menutup glottis, kontraksi otot-otot pernapsan, membuka glottis, mengeluarkan cepat.
4.      Persiapan alat
        Sputum muk dan kertas tissue
5.      Teknik batuk efektif
a.       Pendekatan kepada klien dan jelaskan prosedur
b.      Posisi efektif (posisi duduk lebih baik)
c.       Terik napas dalam (maksimal inhalation)
d.      Tahan 1, 2, 3 …………. Keluarkan ……… batukkan 1 kali
e.       Inhale ……… tahan ……… batukkan kesehatan 2
f.       Ulang terus sampai sputum habis dan klien tidak lelah
g.      Jika pasien setelah operasi, takninya dengan cara meletakkan bantal /  lipatan selimut di atas perut pasien kemudian ditahan (keadaan memeluk).








BAB IV
PENUTUP
A.   Kesimpulan

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan atau tulang rawan yang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik dan biasanya disertai cedera jaringan disekitarnya yaitu ligamen, otot, tendon, pembuluh darah dan persyarafan.
Mobilitas merupakan suatu kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah, dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannya.    

B.   Saran
·         Untuk Mahasiswa
Semoga makalah dapat bermanfaat bagi mahasiswa yang ingin membuat makalah selanjutnya mengenai fraktur dan menjadikannya referensi serta bisa menjadi pedoman dalam penerapan dunia keperawatn
·         Untuk masyarakat
Setelah membaca makalah ini penulis berharap kepada masyarakat agar dapat memahami betapa pentingnya penangan fraktur dan dapat berubah arah pemikiran masyarakat yang masih percaya sama hal-hal yang mistis seperti kedukun.


                                     DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Sudarth, 1996,  Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah  
              Edisi 8, Jakarta
.
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah dari Brunner & Suddarth, Edisi 8. EGC : Jakarta.
Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. EGC : Jakarta.
E. Oerswari 1989, Bedah dan Perawatannya, PT Gramedia. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar